
Embung Kledung, Potensi Wisata di Waduk Penampung Air Hujan
REP | 31 December 2012 | 09:04 Dibaca: 2621 Komentar: 0 3
Sampai saat ini, mungkin belum banyak orang yang tahu bahwa Temanggung yang selama ini dikenal sebagai kawasan ijo roro-royo, ternyata mempunyai banyak wilayah yang rawan dengan kekeringan saat musim kemarau tiba. Dari 20 kecamatan yang ada, 14 di antaranya rawan dengan ancaman kekeringan tersebut. Dari tahun ke tahun bahaya kekeringan tersebut malah semakin parah. Penggundulan hutan dan eksploitasi tanah yang berlebihan di lereng-lereng Gunung Sindoro dan Sumbing disebut-sebut sebagai salah satu biang keladinya.
Saat kemarau yang biasanya jatuh antara Mei sampai September, banyak penduduk di 14 wilayah tersebut mengalami kesulitan mendapatkan air untuk keperluan mereka sehari-hari seperti untuk mandi, masak atau mencuci. Mereka kadang mereka harus melakukan perjalanan yang cukup jauh ke sumber-sumber air yang masih ada demi mendapatkan seember air.
Pada saat seperti itu lahan-lahan pertanian yang ada juga tidak bisa ditanami. Tanah menjadi kering dan kadang menjadi retak-retak. Para petani hanya bisa pasrah menunggu musim hujan tiba, ketika tanah-tanah menjadi basah dan siap diolah kembali. Tanaman seperti padi, jagung dan sayuran memang sangat membutuhkan air untuk pertumbuhannya.
13569188441131998022
Lokasi Embung Kledung, waduk penampung air hujan di Kledung Temanggung
Untuk mengatasi kebutuhan air tersebut Pemerintah Kabupaten (pemkab) Temanggung melakukan terobosan dengan membuat embung (waduk atau kolam) buatan. Embung ini digunakan untuk menampung air hujan yang curahnya cukup tinggi di Temanggung. Selama ini air hujan tersebut dibiarkan begitu saja. Air langsung terserap ke tanah dan mengalir ke daerah yang lebih rendah. Saat kemarau tiba, wilayah-wilayah di dataran tinggi sudah tidak mempunyai stok air lagi.
Embung pertama yang telah dibangun letaknya di wilayah Kecamatan Kledung, sehingga namanya terkenal dengan sebutan Embung Kledung. Hingga akhir tahun 2013, pemkab berencana menyelesaikan pembangunan lima embung. Selain di Kledung, embung juga akan dibangun di Kandangan, Pringsurat, Tretep dan Wonoboyo. Pada tahap berikutnya, sembilan embung juga akan dibangun di kecamatan lain yang rawan dengan kekeringan.
Embung Kledung ini dibangun di atas lahan seluas kira-kira 4 hektar. Embungnya sendiri luasnya 83 meter x 83 meter, dengan kedalaman 3 meter. Pembangunan embung ini didanai dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2010 dengan menghabiskan dana sekitar 1, 2 milyar rupiah.
Kini, air hujan di Kledung yang curahnya cukup tinggi akan ditampung di embung. Selama belum digunakan, air tersebut akan tetap akan tersimpan di tempat tersebut. Saat musim kemarau tiba, air tersebut akan dialirkan langsung ke lahan pertanian di sekitar embung melalui pipa pralon yang telah dipasang. Embung ini dapat mengairi lahan sekitar 20 hektar. Selain itu, air embung juga dapat dimanfaatkan penduduk setempat untuk keperluan sehari-hari.
0 komentar :
Posting Komentar