Recent Post
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 April 2016
Selasa, 03 Februari 2015
TEMBAKAU TEMANGGUNG VARIETAS KEMLOKO 3

Jenis tembakau Temanggung dikenal luas sebagai pemberi rasa dan aroma khas pada rokok kretek. Tembakau ini juga secara ekonomis sebagai penyumbang terbesar (70%-80%) penghasilan petani. Persoalan utama budidaya tembakau ini adalah menurunnya daya dukung lahan karena erosi dan intensitas serangan patogen. Penyakit utama yang sering dijumpai adalah nematoda Meloidogyn spp, bakteri Ralstonia solanacearum, dan jamur Phytophthora nicotianae. Akibatnya produksi yang dicapai petani rata-rata hanya 0,441 ton/ha.
Pada tahun 2001, Balai Penelitian Tembakau dan Serat melepas varietas Sindoro 1. Varietas ini adalah hasil seleksi varietas tembakau lokal Temanggung. Sindoro 1 memiliki sifat moderat tahan terhadap penyakit bakteri Ralstonia solanacearum. Kemudian, Sindoro 1 disilangkan dengan tembakau Virginia varietas Coker 51 yang terkenal tahan terhadap nematoda dan penyakit layu bakteri. Persilangan ini menghasilkan varietas Kemploko 3 yang dirilis tahun 2005. Hasil uji multilokasi memperlihatkan Kemploko 3 menghasilkan tembakau rajangan bermutu tinggi (mutu srintil) dan cocok dikembangkan di daerah tegal gunung di wilayah Temanggung.
Kamis, 22 Januari 2015
Berkebun Emas hijau
Banyak orang mengatakan budidaya sengon atau albasia tidak ubahnya seperti berkebun emas. Keuntungan dari investasi tersebut sangat tinggi pada usia panen 5 th s/d 7 th yang akan datang. Tak heran banyak investor yang bergerak di luar bidang non agrobisnis saat ini mulai banyak menggarap ceruk bisnis yang satu ini. Seperti apa sesungguhnya gambaran dari potensi tersebut? Berikut ini adalah ilustrasi pehitungan analisa ekonomi investasi di bidang agrobisnis, khususnya budidaya sengon. Kebutuhan Dana Investasi Kayu Sengon/Hektar (+/- 4000 Batang) Estimasi Perhitungan Biaya : Pembelian Bibit Rp. 8.000.000 Ongkos Tanam Rp. 4.000.000 Biaya Perawatan Rp. 9.000.000 Biaya Penyulaman 20% estimasi Rp. 5.250.000 Lain-lain Rp. 2.000.000 Total Biaya Rp. 28.250.000 Catatan : Perhitungan ini tanpa menghitung biaya sewa lahan. Estimasi tersebut di atas bisa berbeda untuk satu daerah dengan daerah yang lain. Perhitungan estimasi hanya dibuat secara garis besar. Biaya Perawatan Biaya Perawatan meliputi biaya pembersihan lahan dan pemberian pupuk serta pengendalian hama setiap 6 bulan sekali. Pekerjaan akan melibatkan tenaga kerja sebanyak 5 orang. Terdiri 1 (satu orang) pengawas dan 4 (empat) orang pekerja. Diperkirakan akan memakan waktu 7 hari kerja untuk setiap 1 hektar lahan. Proyeksi biaya perawatan selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 9.000.000. Perhitungan Biaya Perawatan : Upah tenaga kerja per orang : Rp. 20.000/hari Jumlah tenaga kerja : 5 orang Jumlah hari kerja : 7 hari Jumlah biaya per 6 bulan : Rp. 700.000 Jumlah biaya 5 Tahun : Rp. 7.000.000 Kebutuhan Pupuk : Rp. 2.000.000 Jumlah Biaya Perawatan : Rp. 9.000.000 Biaya Penyulaman Biaya penyulaman adalah estimasi atas kemungkinan tanaman yang kurang sehat atau mati. Apabila perkiraan tanaman yang mati sebesar 25% dari total 4000 batang. Maka jumlah penyulaman sebanyak 1000 tanaman. Apabila biaya perawatan dan biaya bibit per batang adalah sebesar Rp. 5.250 [Rp. 12.000.000 + Rp. 9.000.000) : 4.000 batang], maka biaya penyulaman diperkirakan akan menyerap dana sekitar Rp. 5.250.000. Pemasaran Pemasaran kayu sengon relatif lebih mudah, karena kayu sengon merupakan jenis kayu yang tingkat konsumsinya tinggi. Kebutuhan kayu sengon di samping untuk dijual sebagai kayu papan dapat pula digunakan sebagai kayu kaso, palet, bahan pembuat peti dan lain sebagainya. Ranting kayu sengon dapat pula dijual sebagai kayu bakar dan bahan baku pembuatan kertas (pulp). Pemasaran sengon di beberapa wilayah biasanya dilakukan oleh tengkulak atau langsung dijual ke pabrik pemotongan kayu (sawmill). Harga pasar kayu sangat beragam dan berbeda antara daerah satu dengan lainnya. Saat ini harga satu batang pohon sengon usia tanam 5 tahun dapat dijual seharga Rp. 300.000 s/d Rp. 500.000. Sedangkan jika sudah dibuat papan atau balok dapat dijual seharga Rp. 1.000.000 s/d 1.200.000 per m3. Perhitungan Hasil Investasi Jumlah tanaman per hektar lahan adalah berkisar 4000 batang dan prediksi susut sebesar 25% atau sejumlah 1.000 batang. Maka setiap hektar lahan akan menghasilkan kayu yang dapat dipanen sebanyak 3000 batang. Apabila dijual kepada tengkulak (tebang ditempat) tanpa mengeluarkan ongkos tebang dan ongkos angkut sebatang pohon dapat dijual seharga Rp. 500.000 (harga umum rata-rata saat ini th 2010). Maka perhitungannya menjadi sebagai berikut : 3.000 batang x Rp. 300.000 = Rp. 900.000.000 (Jadi selama 5 tahun masa tanam akan menghasilkan 3.000 batang kayu sengon per hektar lahan). Apabila diambil harga jual termurah yaitu sebesar Rp. 300.000 per m3, maka hasil investasi kayu sengon selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 900.000.000. Hasil perhitungan tersebut berdasarkan estimasi terendah. Sebagai informasi, harga pasaran kayu sengon saat ini per batang dengan usia tanam 4 tahun adalah sebesar Rp. 500.000. Di samping itu investor dapat memilih untuk menjual kayu dengan cara jual di tempat, yaitu dijual gelondongan tanpa biaya angkut dengan harga jual sebesar Rp. 300.000 atau menjual kayu olahan dengan tambahan biaya angkut dan biaya pengolahan. Kayu sengon olahan dapat dipasarkan dengan harga Rp. 1.000.000 s/d Rp. 1.200.000 per m3. Semoga bermanfaat. NB : Mungkin perhitungan dalam artikel ini berbeda untuk masing-masing daerah. Artikel ini hanya ilustrasi saja. Dan tentunya kondisi sebenarnya di lapangan bisa Anda sesuaikan dengan yang sebenarnya.
Rabu, 21 Januari 2015
SAYURAN DARI TEMANGGUNG
Temanggung, Antara Jateng - Volume ekspor buah dan sayuran oleh PT Bumi Sari Lestari di Soropadan, Temanggung, Jawa Tengah ke Singapura mengalami peningkatan hingga dua kali lipat. "Sebelumnya kami mengirim buah dan sayuran seminggu sekali ke Singapura sekarang seminggu dua kali, baik melalui jasa pengiriman udara maupun kontainer," kata Manager Produksi PT Bumi Sari Lestari, Farwin Harlingga di Temanggung, Jumat. Ia menyebutkan, ada sekitar 17 jenis komoditas yang diekspor ke Singapura tersebut, antara lain sayuran buncis baby, buncis super, lobak, jipang, cabai, kentang, dan melon . Ia menuturkan, sayuran yang di ekspor tersebut merupakan produk dari petani di Jawa Tengah, antara lain Kabupaten Boyolali, Temanggung, Magelang, dan Wonosobo yang menjalin kemitraan dengan PT Bumi Sari Lestari. Menurut dia ada 43 kelompok tani yang menjalin kemitraan dengan PT Bumi Sari Lestari, namun kelompok tani yang masih efektif menghasilkan produk pertanian sesuai dengan permintaan dari negara tujuan ekspor hanya sekitar 37 kelompok tani. Farwin mengatakan, pengiriman paling besar adalah komoditas kentang jenis granola, kalau sebelumnya sekali mengirim hanya empat hingga lima ton, sekarang mencapai 10 ton. "Alhamdulillah setiap tahun terus mengalami peningkatan, tahun ini meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun lalu," kata. Sebelumnya, pengiriman sayuran dan buah-buahan ke negara tujuan hanya melalui jasa pengiriman udara saja sehingga jumlahnya terbatas, namun sejak pengiriman dengan mengunakan kontainer pengiriman sayuran dan buah-buahan terus mengalami peningkatan.
Kamis, 15 Januari 2015
Bawang Putih Temanggung
TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Harga bawang putih dan bawang merah di Kabupaten Temanggung dalam dua hari terakhir ini mengalami lonjakan tajam. Komoditas pertanian yang menjadi bahan baku memasak ini mencapai harga puluhan ribu rupiah. "Harga bawang putih jenis kating saat ini Rp 40.000/kg. Naiknya sangat tinggi, sebab sehari sebelumnya harganya masih Rp 35.000/kg. Bawang putih jenis cincau dari Rp 16.000 menjadi Rp 35.000/kg. bawang merah juga naik dari Rp 15.000/kg menjadi Rp 20.000/kg," kata Arini (42), penjual bawang di Pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung, Jumat (22/2). Konsumen pun sekarang lebih memilih membeli dalam porsi kecil, misalnya per ons, yang dihargai Rp 4.000-Rp 5.000. Untuk menekan kerugian maka pedagang mengurangi jumlah kulak, apabila biasanya rata-rata per hari 10 kg, kini hanya 5 kg saja. Sulas (35) pedagang bawang di Pasar Parakan, menuturkan meroketnya harga bawang diperkirakan karena persediaan barang di pasaran menipis yang disebabkan tidak menentunya cuaca dan memengaruhi hasil panen petani. Para pedangang berharap agar segera ada tindak lanjut dari pemerintah atau dinas terkait untuk mengendalikan harga agar tidak terus membumbung tinggi, sebab bawang merupakan salah satu kebutuhan pokok. Sementara itu, Sulastri (31), penjual nasi sayur juga mengeluhkan naiknya harga bawang. Dia biasanya membeli seperempat kilogram bawang putih dengan harga Rp 5.000 kini menjadi Rp 8.000. Tak mau merugi Lastri kemudian menaikan harga nasi sayur dagangannya dari semula Rp 2.500 per porsi menjadi Rp 3.000. "Kalau tidak dinaikkan saya bisa rugi dan tidak dapat untung malah bisa bangkrut saya. Tapi kalau mau naik tinggi-tinggi ya kasihan sama pelanggannya juga," tandasnya.
NIKMATNYA BISNIS TEMBAKAU
Temanggung, Antara Jateng - Perwakilan pabrik rokok PT Gudang Garam di Temanggung berjanji akan memborong tembaku dengan cara menambah kuota pembelian bahan baku utama rokok ini pada masa panen 2014, kata Sekretaris Asossiasi Petani Tembakau Temanggung Agus Setyawan. "Berdasarkan hasil pertemuan perwakilan petani tembakau, Pemkab Temanggung, dan perwakilan pabrik rokok kemarin, pihak pabrikan akan menambah kuota pembelian tembakau pada tahun ini dari kuota yang telah ditetapkan pabrikan tersebut di awal tahun 2014," katanya di Temanggung, Rabu. Ia menyebutkan, pada awal tahun 2014 lalu PT Gudang Garam menetapkan kuota pembelian tembakau sebanyak 8.500 ton dan PT Djarum 5.000 ton. "Pada pertemuan kemarin PT Gudang Garam akan menambah kuota pembelian sebanyak 1.500 ton sehingga kuota pembelian menjadi 10.000 ton, sedangkan PT Djarum kuota pembelian tetap 5.000 ton," ucapnya. Namun, katanya, kedua perwakilan pabrik rokok tersebut tidak akan berpatokan pada kuota pembelian tembakau yang telah mereka tetapkan, bisa jadi pembelian kuota pembelian tahun ini lebih banyak dari kuota yang ditetapkan, jika kualitas tembakau semakin baik seiring dengan membaiknya cuaca menjelang musim panen. "Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya seperti itu, pabrikan masih akan terus membeli tembakau selama kualitasnya sesuai dengan keinginan dari pabrikan," ujarnya. Ia berharap, petani tembakau di lereng gunung Sindoro, Sumbing, dan Prau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Temanggung untuk tetap mempertahankan kualitas tembakau sehingga bisa diserap pabrikan. "Sejak awal musim tanam, pemkab dan pabrikan terus menghimbau agar petani mempertahankan kualitas tembakau asli Temanggung, yakni varietas kemloko," tuturnya. Ia menuturkan, mayoritas petani saat ini telah menanam tembakau varietas kemloko, baik kemloko I, II maupun III dengan melakukan pola tanam dan perawatan sesuai dengan keinginan pabrikan. "Saya yakin kualitas tembakau yang dihasilkan oleh petani lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, karena petani sudah merasakan manfaatnya dengan menanam varietas kemloko dengan pola tanam lebih baik, meskipun harus mengeluarkan biaya lebih banyak," tukasnya.
TEMBAKAU TEMANGGUNG
Temanggung dan Fenomena Tembakau Srintil Dari sebuah bekas jembatan rel kereta api, diatas Sungai Kuas, sejauh mata memandang sisi barat nampak dua gunung yang saling berjajar. Gunung Sumbing di sisi kiri dan Sindoro di sisi kanan. Kabupaten Temanggung yang diapit 2 gunung dan pertemuan jalur 3 kabupaten, Magelang, Kendal dan Wonosobo. Usai menikmati pemandangan bentang alam dari Jembatan Rel di Kali kuas, langkah kaki menuju pusat kota Temanggung. Tak berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia, ciri khas juga hampir sama, tak ada satupun yang nampak berbeda dan menjadi ciri khas Temanggung. Langkah kaki berhenti disebuah alun-alun untuk sesaat menikmati pusat kota Temanggung, lagi-lagi tak ada sentuhan khas Temanggung. 2 gunung cantik yang berdampingan sepertinya akan memberikan jawaban, apa yang dicari-cari selama ini. Dalam gelap malam dan pekatnya hawa dingin khas pegunungan, langkah kaki terbawa pada sebuah tempat yang tinggi untuk mendapatkan sebuah jawaban. Tanda tanya besar disaat arah berbelok dari RSK Ngesti Waluyo Parakan menuju sisi barat. Tidak mungkin memotret hamparan lampu-lampuk Parakan dan Temanggung yang hanya terlihat samar oleh kabut tipis, namun semakin naik mulai terasa ada petunjuk yang memberikan jawaban. Aroma tembakau sangat khas, jalanan gelap kini kembali terang benderang disaat memasuki sebuah desa yang bernama Pager Gunung, Kecamatan mBulu. Lereng Gunung Sumbing sisi timur, berdiri sebuah dusun yang bernama Cepit. Dusun ini sangat familiar bagi penggiat alam bebas, karena sebagai pintu masuk "base camp" untuk mendaki Gunung Sumbing dari sisi timur. Disambut hangat oleh mantan kepada desa, untuk dipersilahkan masuk rumah. Pak Purwo Dimulyo, mantan lurah yang menjabat beda tipis dengan mantan presiden Soeharto, yakni 30 tahun. Suguhan makanan ringan dan segelas teh dan kopi menemani obrolan malam itu. Disela-sela obrolan, suara gaduh dan riuh ada di luar sana. Nampaknya mantan Kepala Desa ini mengerti dan bisa menyiasati situasi, sehingga dengan hangat mengajak untuk melihat apa yang terjadi di luar sana. Mata seolah tak percaya dengan keadaan yang ada, di desa yang sepertinya sepi ternyata kehidupan malam tak beda dengan kota metropolitan. Baru sadar, inilah khas dari Kabupaten Temanggung saat panen raya Tembakau. Aroma tembaku semerbak memenuhi dusun kecil, lampu-lampu terang benderang, ribuan lembar rigen (tempat penjemur rajangan tembakau), suara berisik mesin pemotong tembakau, bertumpuk-tumpuk keranjang tembaku yang sudah dilapisi debok (pelepah pisang kering) dan kecerian penduduk meramaikan malam. Disela-sela menikmati kehidupan malam di lereng Sumbing, obrolan semakin hangat disaat mendengar kisah pahit manisnya tembakau. Petani tak ubahnya hidup di Las Vegas lereng gunung dengan bermain peruntungan tembakau. Diawali dari awal musim tanam, dengan modal puluhan juta untuk menggarap lahan, beli pupuk dan bibit, hingga biaya pemeliharan. Puluhan hingga ratusan juta menjadi taruhan menjelang bulan Agustus hingga September. Bulan tersebut menjadi jawaban dari impian lembaran rupiah yang dipertaruhkan dilahan tembakau. Hampir 90% penduduk disana bergelut dengan tembakau, bahkan ada yang benar-benar konsen ditembakau, sehingga tidak ada tanaman lain yang dibudidayakan selaian tembakau. Malam semakin larut, namun pekerjaan belum usai. Mereka yang sibuk merajang tembakau yang kini lebih modern dengan mesin dibanding dahulu yang memakai Gobang "pisau besar". Disisi lain, kaum wanita sibuk menata rajangan Tembakau di atas Rigen, dan kaum pria nampak bersemangat menata dan mengemas Tembakau kering didalam keranjang. Tak kalah menarik, aktivitas dari Grader, atau orang yang bertugas menentukan ukuran kwalitas tembakau. Ditangan Grader tersebut nasib petani ditentukan, seban para Grader yang mendapat mandat langsung untuk menetapkan harga dari pabrik rokok. Lama-lama diam terpaku kepala pusing juga karena aroma tembakau yang lama-lama menyengat. Rasa pusing di kepala semakin menjadi disaat tangan ditarik masuk dalam ruangan didekat pawon (dapur). Mata melihat, daun-daun tembakau yang diikat dan ditata rapi, ternyata ini adalah tempat untuk pemeraman tembakau yang bertujuan untuk melemaskan daun sebelum dirajang. Kejutan yang sebenarnya baru saja di mulai, saat disodorkan beberapa helai daun tembakau. Isyarat agar hidung ini mencium daun yang nampak membusuk ini seolah menolak, namun entah mengapa begitu mantap menghirup dalam-dalam aromanya. Daun tembakau yang nampak membusuk, berair dan berjamur serta menjijikan ternyata adalah harta karun bagi mereka. Emas hijau yang seksi seperti Srintil yang menjadi anugerah dalam pulung dari Illahi. Srintil bukanlah sesosok gadis desa yang menjadi primadona pemuda, namun lebih dari sesosok yang seksi yang didampakan semua petani tembakau. Srintil adalah fenomena alam yang di ekspresikan dalam lembaran daun tembakau yang membusuk saat diperam, mengeluarkan aroma manis (madu) dan lebih kaut dibandingkan dengan daun tembakau yang lain. Disaat Si Srintil ini mengering, bentuknya biru kehitaman, menggumpak seperti aspal dan acapkali pecah menjadi serpihan kecil yang semrintil dan jadilah Srintil. Perlakuan istimewa dari pabrik-pabrik rokok, sebab Srintil menjadi bumbu rahasia dalam pembuatan rokok. Aroma khas srintil yang begitu kuat, memberi sensasi kenikmatan yang luar biasa di sisi penikmat tembakau. Srintil ibarat MSG atau Bumbu dari setiap masakan dalam menuru sebatang rokok. Temanggung sangat bangga, karena satu-satunya penghasil tembaku kwalitas nomer 1 di Indonesia bahkan dunia. Tembakau temanggung ibarat lauk disaat tembaku dari daerah lain menjadi nasi yang kadang pulen yang kadang seperti nasi aking. Komposisi rokok, maka tembakau Temanggung cukup 10% dari isi rokok, berarti sungguh luar biasa Tembakau dari lereng Sindoro dan Sumbing. Kisah si Srintil belum berhenti, namun kini menjadi incaran Pabrik Rokok. 1 ons tembakau srintil yang di giling menjadi serbuk halus sdah cukup untuk memberi aroma 1 ton tembakau. Disisi lain, Srintil memang menjadi primadona bagi siapa saya yang terjun dalam lingkaran Tembakau. Harga tawar yang menggiurkan dari 500 ribu hingga 800 ribu harga yang di patok untuk Srintil setiap kilogramnya. Disaat tembakau lain dari Grade A cuma 30 ribu, grade B 60-70 ribu dan C 120an ribu, namun Srintil langsung melonjak di Grade F ke atas. Harga yang fantastis untuk si seksi dari lereng Sindoro dan Sumbing, yang terlihat tak sebanding dengan morfologinya yang busuk, dan becek berair, namun itulah madu yang mengalir dari lembaran daun nikotin. Srintil bagi penduduk setempak adalah berkah dari Tuhan lewat keberuntungan kejatuhan nDaru. Memang tidak ada yang bisa menduga, tembakau siapa dan di lahan mana yang akan bisa menghasilkan Srintil. Srintil terlihat disaat pemeraman dan tembakau berubah tekstur, aroma dan warnanya. Belum sampai disitu, Srintil hanya terdapat di Sindoro dan Sumbing sisi utara, selain itu tidak ada. Sungguh hot spot yang luar biasa bagi pemilik lahan diarea yang menjadi si Seksi ini tumbuh dan memberi rejeki bagi meraka yang bertaruh di lahan tembakau. Secara ilmiah, fenomena Tembakau srintil bukan barang baru untuk diteliti. Beragam latar belakang ilmu mencoba menguak misteri Srintil, bahkan biaya besar digelontorkan pabrik rokok untuk mencari tahu siapa Dewi Srintil tersebut. Sampel tanah dan tembakau dikaji secara ilmiah dan di uji cobakan, tetap saja nihil hasilnya. Isolasi gen yang mengeksprsikan Srintil belum juga membuahkan hasil. Banyak faktor yang berkontribusi dalam mensintesis Dewi Srintil. Secara geografis, sudah pasti menjadi faktor utama, selain itu faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, nutrisi tanah menjadi aktor yang penting. Dewi Srintil menampakan diri saat diperam, lewat sebuah biokonversi daun hijau berubah menjadi kuning menjadi cokelat dan gelap, lalu berair dan mengeluarkan aroma khas. Sudah pasti proses fermentasi ini melibatkan organisme pengurai seperti jamur, khamir dan bakteri yang beasosiasi menghasilkan enzim-enzim tertentu untuk mengkonversi material organik. Kompleksnya sintesis Srintil ini memang menjadi kajian menarik untuk terus diteliti guna menguak tabir misterius seperti kabut pekat Sindoro Sumbing. Namun, nampaknya Srintil tetap menjadi misteri dan biarlah Tuhan dan petani yang beruntung yang tahu dan menikmatinya. P Eksotisme dan fonemena Srintil membius diri dalam kubangan kenikmatan nikotin dan tidak terasa dini hari sudah terlewat. Geliat petani masih belum berhenti, dan lantunan dalam untaian doa harapan dikumandangkan agar esok cerah, tembakau kering dalam sekali jemur. Perjudian belum usai disaat harga tembakau masih di goyang para penjual jasa yang mengahantarkan ke gudang pabrik rokok. Begitu juga dengan pabrik rokok yang memegang kendali permainan untuk perjudian ini. Pemerintah seolah tak berkuasa untuk ranah di lahan tembakau, sebab tidak ada regulasi harga agar stabil dan perlindungan terhadap petani. Sebuah bisnis besar di negeri ini yang memberikan sumbangan terbesar lewat cukai, namun apakah bisa dinikmati oleh petani tembakau?. Petani tetaplah petani yang terus bekerja walau dengan spekulasi, namun Dewi Srintil yang akan menentukan kepada siapa Pulung itu jatuh. Temanggung metropolitan disisi timur Sindoro dan sumbing di bulan Agsutus hingga September, seharum Srintil primadona kota tembakau.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

